Entri Populer

Kamis, 21 September 2017

Becomes You


Salju di kota Birmingham tak menghentikan langkahku saat ini. Dengan dibalut mantel tebal berwarna khaki dan juga syal berwarna senada, aku tetap melangkahkan kakiku menuju kedai kopi di ujung jalan dekat dengan Birmingham New Street Station. Rumah-rumah dari bata merah dengan cerobong asap yang ada di kanan kiri jalan sangat menarik perhatian. Anak anak kecil berlomba membuat bola salju. Kota ini padat. Tapi tidak menyesakan. Cukup membuatku nyaman untuk saat ini.

Berjalan kaki seperti ini mengingatkanku tentang bagaimana pertemuan pertamaku dengannya. Ia sosok yang amat ku kagumi hingga saat ini. Yang mampu membuatku menyadari bahwa hidup yang sesungguhnya bukanlah semata hanya untuk mencapai tujuan. Namun juga harus menikmati proses tersebut. Hingga aku menyadari, bahwa satu dari sekian banyaknya manusia di bumi ini. Hanya ia yang mampu membuatku mengerti akan hadirnya cinta.

Aroma vanilla yang lembut dan kopi yang tajam sudah mulai mengusik indra penciuman ku. Pelanggan Bull Street Coffee sudah mulai membuat antrian di jam Coffee Break seperti ini. Termasuk aku yang mulai merapatkan barisan di tengah pelanggan yang lain.

Di balik meja kasir ia tersenyum  sambil melayani pelanggan yang memesan kopi khas kedai ini yang sedang ramai diperbincangkan. Bull Street Coffee merupakan kedai kopi yang berbeda dengan kedai kopi lainnya. Di sini para pelanggan yang menghampiri meja kasih untuk memesan pesanannya secara manual. Tidak ada waitress yang berjalan di sela sela meja. Hanya ada kasir dan bartender yang melayani para pelanggan di sini. Termasuk ia yang menjadi kasir pada pagi ini.

Seperti biasa, aku memesan Caramel Macchiato ditemani dengan Toasted Bread & Turkey Bacon. Senyum khasnya sejenak mengalihkan duniaku. Bibirku kelu menjawab sapaan darinya yang biasa ku dengar. Dengan lembut ia melayaniku seperti pelanggan yang lain. Hari ini satu kebahagiaanku terwujud hanya dengan melihat senyumnya.

Setelah kuterima pesanan ku, aku menuju tempat duduk seperti biasa. Aku sengaja mengambil tempat ini sebagai tempat favoritku karena disini lah aku bisa dengan mudah menatap gerak langkah nya. Tempat yang aman untuk sesekali mengintip betapa manisnya gerakan yang ia ciptakan saat melayani dan menyapa pelanggan.

Waktu Coffee Break akan segera berakhir.  Para pelanggan mulai meninggalkan kedai kopi ini satu persatu. Tinggal aku sendiri pelanggan yang masih tersisa di sudut kedai kopi ini.

Aku masih memperhatikan gerak geriknya. Dengan telaten ia mengumpulkan sampah sampah plastik bekas pelanggannya yang tertinggal di meja.

"09.40 kau masuk dan mulai mengantri di kedaiku. 10.00 giliran waktumu untuk mengantri dan memesan Macchiato & Bacon. Lalu, 10.20 kau akan meninggalkan cafe ku dan pergi ke gedung sebrang dengan terbirit birit. Benar bukan?" Jelasnya sambil menyebutkan keseharianku setiap pagi. Aku terkejut karenanya.

"Bagaimana kau bisa tau? Pernyataanmu tidak satupun salah." Tanyaku.

Ia tersenyum karenanya. "Karena, aku selalu memperhatikan setiap pelangganku. Karena menurutku, setiap moment adalah berharga."

"Erina." Ia menyebutkan namanya sambil mengulurkan tangan di hadapanku. Akupun menyambut uluran tangannya

"Rigel." Jawabku. Ia terlihat memikirkan sesuatu ketika aku menyebutkan namaku.

"Rigel. Bintang yang 40.000 kali lebih terang dari matahari. Benar bukan?" Katanya. Lagi lagi aku terpaku karenanya.

"Lagi lagi pernyataanmu tepat Erina." Kataku sambil tersenyum. Ia terkekeh mendengar jawabanku.

"Baiklah Rigel. Aku pamit dulu, karena para tumpukan piring di belakang tidak akan bersih jika aku tidak segera menyucinya. Nice to meet you Rigel." Pamit Erina.

"Nice to meet you too, Erina." Kataku.

Ketika ia melangkah, aku menyisipkan selembar kertas di tangannya. Kulihat ia tersenyum sambil membuka kertas kecil dariku. Ia membuka suratku yang berisikan, "Arti namaku secara harfiah memang terang, bersinar. Dan kuharap, di dalamnya ada kamu."

Kulihat ia membalas suratku. Ia kembali berjalan ke arahku dan meletakan sepucuk surat di depanku.

"Jika memang itu aku, maka aku tak akan melepaskanmu."

Sabtu, 19 Agustus 2017

Kondisi Bahasa Indonesia Saat Ini

Eksistensi Bahasa Indonesia yang merupakan jati diri bangsa Indonesia pada era globalisasi sekarang ini, perlu dibina dan dimasyarakatkan oleh setiap warga negara Indonesia. Hal ini diperlukan agar bangsa Indonesia tidak terbawa arus oleh pengaruh dan budaya asing yang tidak sesuai dengan bahasa dan budaya bangsa Indonesia. Pengaruh alat komunikasi yang begitu canggih harus dihadapi dengan memertahankan jati diri bangsa Indonesia, termasuk jati diri bahasa Indonesia. Ini semua menyangkut kedisiplinan berbahasa nasional, dengan mematuhi semua kaidah atau aturan pemakaian bahasa Indonesia.
Dengan disiplin berbahasa Indonesia akan membantu bangsa Indonesia untuk mempertahankan dirinya dari pengaruh negatif asing atas kepribadiannya sendiri.Bahasa Indonesia memang memegang peranan penting dalam membangun manusia Indonesia seutuhnya dan pembangunan sumber daya manusia. Karena itu, peningkatan pendidikan bahasa Indonesia di sekolah-sekolah perlu dilakukan melalui peningkatan kemampuan akademik para pengajarnya. Demikian juga halnya dengan Bahasa dan Sastra Indonesia sebagai sarana pengembangan penalaran, karena pembelajaran bahasa Indonesia selain untuk meningkatkan keterampilan berbahasa, juga untuk meningkatkan kemampuan berpikir, bernalar, dan kemampuan memperluas wawasan.
Arus global tanpa kita sadari memang telah berimbas pada penggunaan dan keberadaan bahasa Indonesia di masyarakat. Penggunaan bahasa di dunia maya dan sosial media, facebook, twitter, SMS misalnya, memberi banyak perubahan bagi struktur bahasa Indonesia yang oleh beberapa pihak disinyalir merusak bahasa itu sendiri. Bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional harus disikapi bersama termasuk dalam pengajarannya. Untuk itu, peningkatan fungsi bahasa Indonesia sebagai sarana keilmuan perlu terus dilakukan sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Seirama dengan ini, peningkatan mutu pengajaran bahasa Indonesia di sekolah perlu terus dilakukan. Untuk menyemarakkan penggunaan bahasa Indonesia dengan baik dan benar, pemerintah telah menempuh politik kebahasaan, dengan menetapkan bulan Oktober sebagai Bulan Bahasa.
Dari sudut pandang linguistik, bahasa Indonesia adalah salah satu dari banyak ragam bahasa Melayu. Dalam perkembangannya ia mengalami perubahan akibat penggunaanya sebagai bahasa kerja di lingkungan administrasi kolonial dan berbagai proses pembakuan sejak awal abad ke-20. Meskipun dipahami dan dituturkan oleh lebih dari 90 persen warga Indonesia, Bahasa Indonesia bukanlah bahasa ibu bagi kebanyakan penuturnya. Sebagian besar warga Indonesia menggunakan salah satu dari 748 bahasa yang ada di Indonesia sebagai bahasa ibu. Penutur Bahasa Indonesia kerap kali menggunakan versi sehari-hari (kolokial) atau mencampuradukkan dengan dialek Melayu lainnya atau bahasa ibunya.
Pada dasarnya seluruh kegiatan manusia akan sangat berkaitan erat dengan bahasa. Bahasa tidak hanya dapat digunakan dalam bentuk lisan, tapi juga dapat digunakan dalam bentuk tulisan. Ilmu filsafat juga tidak lepas dari penggunaan bahasa, banyak filsafah yang justru mengawali pemikirannya dari problem bahasa. Tentunya bahasa disini bukan berarti sekedar mempelajari tata gramatikal bahasa ataupun bahasa asing, melainkan bagaimana pengertian seseorang dapat terpengaruh hanya dari penggunaan kata-kata atau pemikiran.
Penggunaan bahasa Indonesia secara Nasional berperan sebagai alat perekat dan alat pemersatu bagi rakyat Indonesia. Bahasa Indonesia merupakan suatu simbol yang menunjukan identitas Negara Indonesia.
Pada saat tumbangnya Suharto tahun 1998, bangsa Indonesia mulai mengalami banyak perubahan. Hal ini terlihat dari penggunaan bahasa asing dan bahasa daerah pada ruang publik. Semasa pemerintahan orde baru hanya bahasa Indonesia yang digunakan di ruang publik, dan bahasa asing hanya bahasa Inggris. Namun, saat ini sering kali kita mendengar  di media massa terutama televisi penggunaan bahasa lain. Seperti  bahasa Jawa, Sunda, Melayu dan lain lain. Untuk bahasa asing bahasa yang sering digunakan yaitu bahasa Perancis, Jerman, Korea, Dan Mandarin.
Sementara untuk bahasa daerah, pada masa Orde Baru penggunaan bahasa daerah terbatas pada wilayah "aman", dalam arti tidak digunakan untuk bidang politik dan ideologi, melainkan hanya pada ranah budaya, seperti untuk pertunjukkan kesenian daerah. Seiring dengan pertumbuhan otonomi daerah, penggunaan bahasa daerah di ruang publik semakin meluas dan seolah-olah menjadi hal yang wajar.
Penggunaan bahasa Indonesia secara Nasional berperan sebagai alat perekat dan alat pemersatu bagi rakyat Indonesia. Bahasa Indonesia merupakan suatu simbol yang menunjukan identitas Negara Indonesia. Sejauh ini tanpa terasa banyak kosakata yang sebenarnya hasil serapan dari bahasa lain tetapi sudah kita anggap sebagai kosakata bahasa Melayu/Indonesia.
Pada saat tumbangnya Suharto tahun 1998, bangsa Indonesia mulai mengalami banyak perubahan. Hal ini terlihat dari penggunaan bahasa asing dan bahasa daerah pada ruang publik. Semasa pemerintahan orde baru hanya bahasa Indonesia yang digunakan di ruang publik, dan bahasa asing hanya bahasa Inggris. Namun, saat ini sering kali kita mendengar  di media massa terutama televisi penggunaan bahasa lain. Seperti  bahasa Jawa, Sunda, Melayu dan lain lain. Untuk bahasa asing bahasa yang sering digunakan yaitu bahasa Perancis, Jerman, Korea, Dan Mandarin.
Sementara untuk bahasa daerah, pada masa Orde Baru penggunaan bahasa daerah terbatas pada wilayah "aman", dalam arti tidak digunakan untuk bidang politik dan ideologi, melainkan hanya pada ranah budaya, seperti untuk pertunjukkan kesenian daerah. Seiring dengan pertumbuhan otonomi daerah, penggunaan bahasa daerah di ruang publik semakin meluas dan seolah-olah menjadi hal yang wajar.
Berbahasa Indonesia yang baik dan benar mempunyai beberapa konsekuensi logis terkait dengan pemakaiannya sesuai dengan situasi dan kondisi. Pada kondisi tertentu, seperti pada situasi formal penggunaan bahasa Indonesia yang benar menjadi prioritas utama. Penggunaan bahasa seperti ini sering menggunakan bahasa baku. Namun, kendala yang harus dihindari dalam pemakaian bahasa baku antara lain disebabkan oleh adanya gejala bahasa seperti interferensi, integrasi, campur kode, alih kode dan bahasa gaul yang tanpa disadari sering digunakan dalam komunikasi resmi. Hal ini mengakibatkan bahasa yang digunakan menjadi tidak baik.
Sebaliknya, berbahasa yang baik yang menempatkan pada kondisi tidak resmi atau pada pembicaraan santai tidak mengikat kaidah bahasa di dalamnya. Ragam berbahasa seperti ini memungkinkan munculnya gejala bahasa baik interferensi, integrasi, campur kode, alih kode maupun bahasa gaul. Hal ini disebabkan kodrat manusia sebagai makhluk sosial tidak lepas dari adanya interaksi dan komunikasi antar sesamanya. Bahasa sebagai sarana komunikasi mempunyai fungsi utama bahasa yaitu sebagai media komunikasi untuk menyampaikan pesan atau makna oleh seseorang kepada orang lain. Akhirnya, keterikatan dan keterkaitan bahasa dengan manusia menyebabkan bahasa tidak tetap dan selalu berubah seiring perubahan kegiatan manusia dalam kehidupannya di masyarakat.
Disamping itu, perubahan bahasa dapat juga terjadi bukan hanya berupa pengembangan dan perluasan, melainkan berupa kemunduran sejalan dengan perubahan yang dialami masyarakat. Berbagai alasan sosial dan politis menyebabkan banyak orang meninggalkan bahasanya, atau tidak lagi menggunakan bahasa. Seperti misalnya, dalam perkembangan masyarakat modern saat ini, masyarakat Indonesia cenderung lebih senang dan merasa lebih intelek untuk menggunakan bahasa asing. Hal ini memberikan dampak terhadap pertumbuhan bahasa Indonesia sebagai jati diri bangsa. Akhirnya, kepopuleran bahasa Inggris menjadikan bahasa Indonesia tergeser pada tingkat pemakaiannya.
Seiring dengan bertambahnya usia bahasa Indonesia, semakin dihadapkan pada tantangan besar, tantangan yang dibuat oleh masyarakatnya sendiri. Tidak dapat dipungkiri bahasa asing khususnya bahasa Inggris merupakan elemen penting dalam kehidupan saat ini.
Namun jika kita lihat secara menyeluruh yang menyebabkan terancam nya eksistensi bahasa Indonesia, tidak hanya penggunaan bahasa asing yang sudah sangat marak, melainkan penggunaan bahasa yang tidak sesuai kaidah kebahasaan atau yang biasa disebut bahasa alay atau bahasa gaul. Bahasa gaul adalah bahasa nonresmi yang digunakan oleh kalangan tertentu yang sifatnya sementara, biasanya digunakan oleh kalangan remaja. Bahasa gaul digunakan untuk menyampaikan hal-hal yang dianggap tertutup bagi kelompok usia lain agar pihak lain tidak mengetahui apa yang sedang di bicarakan. Bahasa gaul atau yang sering disebut bahasa prokem. Hal ini lah yang perlahan berpotensi mengikis eksistensi bahasa Indonesia.
            Walaupun Kita tahu bahwa bahasa internasional Bahasa Inggris, untuk bisa berinteraksi dan berkomunikasi dengan orang dari negara lain, orang tersebut pasti menggunakan bahasa asing. Tidak terkecuali orang indonesia. Bahasa inggris, dimana merupakan bahasa asing di negara indonesia mempunyai peranan besar bagi indonesia itu sendiri. Pengaruh yang diberi pun beraneka ragam, ada yang memberikan pengaruh positif dan tidak jarang juga ada yang meberikan pengaruh negatif.
Dengan keberadaan bahasa asing sebagai bahasa internasional, pendidikan indonesia mulai dari taman bermain sampai dengan universitas memiliki kurikulum dan pelajaran tentang bahasa asing. Ini dilakukan agar sumber daya manusia indonesia dapat ikut andil dalam globalisasi dunia. Pengaruh yang cukup positif bukan ?
Pengaruh negatif dari bahasa asing itu sendiri ada. Belakangan ini, pengaruh negatif dari bahasa asing tersebut sudah terlihat. Cara pemakaian bahasa belakang ini yang sedang populer di semua kalangan adalah penggunaan bahasa campur aduk. Bahasa indonesia dikombinasikan dengan bahasa asing. Banyak generasi bangsa sekarang yang merasa lebih percaya diri dan gaul jika menggunakan bahasa campur aduk tersebut. Ini jelas mengurangi kekaedahan dan keabsahan akan bahasa indonesia yang menjadi bahasa persatuan itu sendiri.
Demikian juga dengan semakin maraknya penggunaan bahasa gaul yang digunakan oleh sebagian masyarakat modern, perlu adanya tindakan dari semua pihak yang peduli terhadap eksistensi bahasa Indonesia yang merupakan bahasa nasional, bahasa persatuan, dan bahasa pengantar dalam dunia pendidikan. Sementara tolok ukur variasi pemakaian bahasa adalah bahasa Indonesia yang baik dan benar dengan parameter situasi. Bahasa Indonesia yang baik dan benar adalah bahasa Indonesia yang digunakan sesuai dengan norma yang berlaku dan sesuai dengan kaidah-kaidah bahasa Indonesia.

Berbagai macam bahasa gaul yang mulai tumbah beriring dengan berjalannya waktu. Istilah ini sudah mulai dikenal pada era 80-an. Contoh darri bahasa gaul tersebut adalah, kata kamu menjadi Lo / Lu / Loe. Ada pula aku menjadi Gue / Gua. Untuk sebutan Ayah dan Ibu terdapat pengubahan kata pula menjadi Bokap dan Nyokap.
Selain bahasa gaul. Bahasa asing juga menjadi pengaruh yang besar terhadap perkembangan bahasa  saat ini. Banyak bahasa asing yang lebih ering digunakan oleh masyarakat Indonesia saait kini daripada bahasa Indonesia itu sendiri. Bahkan banyak anak muda zaman sekarang yang menganggap, dirinya tidak keren apabila tidak memakai bahasa asing/bahasa gaul.
Ada banyak bahasa asing yang dapat kita temui dalam kehidupan sehari hari. Contohnya, penggunaan nama tempat, jalan, kendaraan, dll. Seperti saat ini, masih banyak dari kita yang memakai bahasa asing dan menjadi kebiasaan sehari hari. Contoh dari kata tersebut seperti, CODv(Cash On Delivery), Design, Miss Call. Sebagai contoh lain, masyarakat Indonesia lebih sering menempel ungkapan “No Smoking” daripada “Dilarang Merokok”, “Stop” untuk “berhenti”, “Exit” untuk “keluar”, “Open House” untuk penerimaan tamu di rumah pada saat lebaran, dan masih banyak contoh lain yang mengidentifikasikan bahwa masyarakat Indonesia lebih menganggap bahasa asing lebih memiliki nilai.
Pemda DKI Jakarta, misalnya, bekerja sama dengan Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa mengadakan teguran-teguran lisan dan tertulis, bahkan turun ke lapangan mendatangi perusahaan-perusahaan yang papan namanya menggunakan bahasa Inggris atau mencampuradukkan bahasa Inggris dan bahasa Indonesia dengan struktur bahasa Inggris. Misalnya, sebelumnya terpampang “Pondok Indah Mall”, “Ciputra Mall”, “Mestika Bank”, dan lain-lain, sekarang diubah menjadi “Mal Pondok Indah”, “Mal Ciputra”, “Bank Mestika”.
Kesemua kata-kata tersebut menjadi kosakata bahasa Indonesia melalui proses adaptasi sehingga sesuai dengan sistem bahasa Indonesia. Jadi, agaknya proses membuka diri terhadap pengaruh kosakata asing sudah berlangsung lama dalam sejarah perkembangan bahasa Indonesia. Oleh karena itu, pada era globalisasi ini kekhawatiran yang sangat mendalam terhadap pengaruh masuknya unsur-unsur asing terhadap bahasa Indonesia tidak terlu terjadi.
Yang perlu dicermati adalah penagaruh asing tersebut harus diarahkan ke perkembangan yang positif terhadap bahasa Indonesia. Bahkan, sedapat mungkin kita mencari peluang-peluang dari pengaruh globalisasi ini bagi kamajuan perkembangan bahasa Indonesia.
Banyak faktor yang sangat kuat untuk mempengaruhi terancamnya eksistensi bahasa Indonesia. Disaat kita berbicara dengan sesama kita bisa terpengaruh karena yang pertama lingkungan, faktor lingkungan ini sangat kuat pengaruhnya karena kita berada didalam lingkungan tersebut. Lingkungan yang seperti apa? Misal kita berada pada sebuah lingkungan sekolah dan sedang berkumpul dengan teman sebaya, apakah kita akan menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar dan sesuai dengan ejaan yang disempurnakan? Rasanya akan terasa rancu dan aneh ketika kita menggunakan EYD di lingkungan yang seperti itu, mengapa terasa rancu? Kita cenderung menggunakan bahasa yang mudah dimengerti dengan lawan bicara dan terdengar enak jika diucapkan. 
Penggunaan kalimat tidak baku dalam berbicara juga mempengaruhi saat kita berbicara dalam situasi formal. Ada kalimat-kalimat yang sering kita dengar, saat kita mendengarnya terasa janggal. Ini yang masih mempengaruhi keadaan bahasa kita saat ini. Yang kedua pengaruh bahasa daerah, pengaruh ini sering kita dengar sedikit banyak, jika seseorang tidak sering menggunakan bahasa Indonesia ia akan janggal saat berbicara, dia bisa tidak sengaja mengeluarkan bahasa daerahnya saat berbicara dengan orang lain yang jadi nya orang lain tidak mengerti, selain itu dialek pun akan sedikit mempengaruhi kerancuan dalam berbahasa Indonesia. 
Melihat persoalan di atas, tidak ada kata lain, kecuali menegaskan kembali pentingnya pemakaian bahasa Indonesia dengan kaidah yang baik dan benar. Hal ini disamping dapat dimulai dari diri sendiri, juga perlu didukung oleh pembelajaran bahasa Indonesia di sekolah.
Dengan demikian globalisasi memang tidak dapat dihindari. Akulturasi bahasa nasional dengan bahasa dunia pun menjadi lebih terasa perannya. Menguasai bahasa dunia dinilai sangat penting agar dapat bertahan di era modern ini. Namun sangat disayangkan jika masyarakat menelan mentah-mentah setiap istilah-istilah asing yang masuk dalam bahasa Indonesia. Ada baiknya jika dipikirkan dulu penggunaannya yang tepat dalam setiap konteks kalimat. Sehingga penyusupan istilah-istilah tersebut tidak terlalu merusak tatanan bahasa nasional.


Rabu, 15 April 2015

Time To Galaau -II-



     Aku terpaku melihat kehadiramu secara tiba tiba. Kau memperkenalkan dirimu kala itu. Kau memulai percakapan dengan senda guraumu. Kita saling bertukar cerita dan pengalaman. Aku merasa senang ketika mendengar tawamu. Candamu terasa pas di telingaku. Cukup mudah menerimamu di hatiku.

     Entah sudah berapa banyak kejadian yang kita lalui. Entah sudah berapa kali kita melalukan hal konyol di depan umum. Entah sudah berapa kali kita tertawa bersama. Entah sudah berapa banyak cerita yang kita torehkan di jurnal harian kita. Aku nyaman melalukan segala hal denganmu. Kaupun juga merasa begitu. Kita selalu melakukan apapun bersama sama. Tak ada satupun hal yang kita lewatkan tiap harinya. Di mana ada aku di situ pula kau berada, kita bagai sepasang gembok dan kunci.

     Entah menapa aku merasa ada yang lain dengan senyummu. Senyummu begitu memikat dan aku suka itu. Aku hanya ingin senyum itu tercipta untukku. Aku ingin akulah alasan mengapa kau tersenyum. Egois memang, tapi inilah kehendak hatiku. Tak bisa kupungkiri lagi. Aku mulai terpesona olehmu.

     Namun, ada hal lain yang mengganjal di hatiku. Aku tak suka ketika melihatmu tertawa dengan gadis lain. Aku tak suka ketika kau membicarakan gadis lain di depanku. Aku tak suka ketika kau lebih mementingkan yang lain. Aku merasa kesal jika kau tak berada bersamaku. Anggaplah aku posesif. Tapi inilah kenyataannya. Aku mulai mencintaimu.

     Kukira semua akan berjalan seperti biasa. Ternyata aku salah, kau berpaling dariku. Dia merebut perhatianmu lebih dan aku tak suka itu. Kau –kalian- menorehkan luka yang dalam tanpa kau sadari. Kalian bercanda sesuka hati di depanku tanpa tahu bahwa aku sakit mendengar tawa kalian. Mungkinkah ini salahku yang mencintaimu terlalu cepat?

     Kau kembali kepadaku. aku merasa senang melihat kau kembali kepadaku. senyumku memudar ketika aku baru menyadari kau tidak datang sendiri menghampiriku. Ada dia di sampingmu. Kalian bergandeng tangan dan saling bertukar senyum. Tuhan, apa ini bertanda buruk? Dugaanku benar, kau mengatakan dengan riangnya bahwa kau telah meresmikan hubunganmu dengannya hari ini.  Aku tak sanggup menahan air mataku. Tuhan inikah akhir perjuangan ku? Haruskah aku berhenti meharapkannya sampai di sini?

     Sudah sebulan hubunganmu dengan gadis barumu. Sudah sebulan juga kau membiarakan diriku sendiri. Kau berubah. Aku ingin kita kembali kemasa masa itu. Kita bercanda menghabiskan waktu bersama. Kini waktumu hanya untuknya. Kau benar benar melupakanku. Aku sadar egoku untuk bersamamu terlalu tinggi. Kau hanya menganggapku masa lalu. Tak bisa kupungkiri, aku merindukanmu.

     Kuberanikan hatiku untuk melihat sekelilingku. Kumantapkan hatiku untuk melupakanmu. Dengan berbekal keberanian, aku belajar melupakanmu. Segenap rasaku sudah hancur berkeping keping melihatmu bersamanya. Lalu apa yang bisa kuharapkan darimu? Kuputuskan saat ini juga bahwa aku berhenti mencintaimu.

Minggu, 09 November 2014

Untitled 2

Hai guys!!!
hahaha sebenernya ini late post banget. Di sini gue mau nyeritain eyang gue -lagi-

Dimulai dari h-1 UTS selesai tepatnya tanggal 4 oktober 2014. Awalnya gabut gabutan gue sama pingkan sama syifa. Abis balik UTS kita bingung mau kemana akhrinya ujung ujungnya berakhir di rumah pingkan. Di rumah pingkan bertiga itu gabut banget ngobrol ngalur ngidur dari hal penting sampe gapenting BGT. Nah pas adzan ashar gue firasat gaenak mau nyoba bawa biasa aja tapi kaya ada yang something. Gue ga nganggep apa apa dan ngelanjutin ngobrol lagi sama syifa sama pingkan. Sampe kita balik jam 17.30 hahaha parah emang.

Di jalan pulang gue bingung mau langsung pulang ke rumah atau ke rumah eyang dulu jemput adek. Akhirnya gue ke rumah eyang dulu. Pas di gang arah rumah eyang gue, gue heran kok ada bude gue. Terus gue perhatiin mukanya dia kaya abis nangis terus di gang tadi juga ada bendera kuning. Dan fix hati gue mulai ga tenang pas di depan rumah eyang gue rame. Pas gue masuk gerbang adek gue bilang "kak eyang meninggal". Cuma karna kalimat sesimpel dan sesingkat itu gue down seketika. Ganyangka bener bener kalo rame rame tadi gataunya..... Ah dafuq. Disitu gue bloon banget bingung mau nangis atau gimana. Eyang gue itu bener bener ayah pengganti gue. Gue bener bener ngerasa hidup gue tinggal separo. Gue selama di sana cuma diem ngablu gaje. Akhirnya gue mutusin buat pulang ke rumah karna besok masih UTS. Di jalan gataunya gue ngablu juga. Entah gimana tiba tiba gue udah di simprug.

Pas pagi UTS gue bengong -masih-. Abis balik UTS gue bingung mau kemana gue gamau pulang karna gue yakin gue ga akan kuat liat eyang gue. Akhirnya gue ikut syifa pingkan nonton Annabele padahal gue ga megang gue seribu pun. Selama nonton gue ga connect cuma kaget kagetan doang kalo ada yang serem. Abis nonton gue pulang ke rumah. Nah baru deh gue nangis dan menyadari sesuatu #halah. Pas nangis itu gue ngerenung. Gue nyesel kenapa gue ga ikut pemakamannya padahal gue sayang banget sama dia. Ah dafuq lah. Dan parahnya sampe saat ini gue belom ke makam eyang gue.

Finishnya di sini aja deh. Gue ga jago buat ending. Bye!

Kamis, 02 Oktober 2014

Menang dan Pemenang

Hai guys!
Pernah ga ngerasain up and down dalam 2 hari berturut turut? Rasanya gimana? Pasti adrenalin lo keluar kan? Hahaha gue baru aja ngalamin itu. Gini ceritanya.

Hari rabu kemarin gue kepilih sebagai anggota osis 2014/2015 di sekolah gue hahaha. speechless sumpah. Disitu gue ngerasain yang namanya berjuang dengan kemampuan gue sendiri sekuat sebisa dan semaksimalnya gue banget tanpa bantuan orang lain. Dan hasilnya ga sia sia. THANKS GOD!!! Rasanya sekali terima kasih aja kurang hahaha oke ini lebay. Rasanya bener bener seneng banget dan masih ga percaya orang kaya gue kepilih jadi anggota osis padahal gue 30% ceroboh 10% males sisanya pelupa. Nah loh! *jengjet* -efek suara gagal-. Tapi gue bakalan ngebuktiin kok kalo gue bakalan ngerubah minusnya gue yang sampe 100% itu -_- ini upnya, sekarang gue bakalan ceritain downnya. Jadi gini ceritanya

Hari ini gue baru banget pertama kali ngerasain yang namanya MALU TINGKAT DEWA haha fix intinya ini memalukan. Jadi gue ikut lomba PKS (patroli keamanan sekolah) isinya tuh pbb sama gerakan dasar lalu lintas. Jadi ceritanya pas udah di tempat lomba kan gue duduk pas gue diri gataunya taraaaaaa.... Masalah perempuan datang-_- asli gue malu banget dan sialnya bangku yang gue dudukin warna putih. Asli gue panik gue gatau harus gimana lagi haha lebay. Karna gue panik ga sengaja gue rada teriak gitu pas bilang *bocor* akhirnya hampir semua orang ngeliat ke gue. Rasanya gue pengen tenggelem aja di laut saat itu.

Akhrinya ada kakak kelas gue ngasih 'roti' ke gue dan gue pun ganti-_- pas gue balik ke tkp *halah* gue dapet kabar buruk kalo gue digantiin hiks sedih. Kecewa sih, Tapi ga papa soalnya gue juga ngerasa ga akan sanggup kalo nerusin lomba di hari 'pertama'.

Akhirnya tim gue -tanpa gue- maju sebagai peserta nomor urut pertama. Duh gila nyeseknya baru terasa ternyata pas tim lo maju dan lo cuma sebagai penjaga tas yang berserakan-_- hahaha lebay. Gue udah berusaha semaksimal yang gue bisa waktu pelatihan di sekolah selama 3 haru berturut turut. Rela relain cabut pelajaran pelajaran penting cuma demi pks tapi ternyata gue gaikut maju karna kesalahan gue sendiri huhuhu. Gue akhirnya cuma jagain tas temen temen gue yang maju sendirian. Gila panas bro-_- gue duduk sambil bener bener doain mereka supaya tetep kompak.

Asli gerakan pbbnya bagus kompak walaupun kak peepp *sensor* kerudungnya kebuka yang mengakibatkan pasukan sekolah gue diketawain penonton. Anjir rasanya gue pengen nurunin kerudung kakak itu sama ngomel ngomelin yang ngetawain tapi apa daya aku tak mampu. Gerakan abis pbb yaitu 12 gerakan dasar pengaturan berlalu lintas halah ribet. Diawalnya kompak eh pas udah ditengah pada blank sebagian yaampun itu parah banget gue ga sengaja ketawa sorry guys hahaha.

Dan pas pengumuman. Ya gitu,  siapa sih yang lomba ga ngarepin menangnya? Juaranya? Pialanya? Pasti pengen kan ngangkat piala tinggi tinggi karna usaha lo? Gue juga gitu pengen banget menang dan ngangkat piala itu rame rame sama anggota pks sekolah gue. Tapi ternyata kita ga dapet piala itu hehe nyesek kan? Pasti.

Awalnya kita happy happy aja tapi pas ada adegan sekolah sebelah ngangkat piala tinggi tinggi sambil lari rasanya iri walaupun gue tau iri ga bagus. Rasanya kaya "kenapa bukan kita yang kaya gitu". Tapi karna kak ike bilang "lomba itu jangan ngarepin 'menangnya' tapi usahain lo jadi 'pemenang'. Karna menang bisa karna 'permainan' tapi kalo 'pemenang' ya itu lo apa adanya." fix gue langsung semangat lagi ga down walaupun masih kecewa sedikit.

Intinya pesan gue jangan nyerah sebelum mencoba. See you soon guys. Bye!

Kamis, 18 September 2014

Pancasila Sebagai Pengembangan Ilmu

Pada hari Senin, 4 Desember 2017 pukul 16.50 WIB saya mengikuti mata kuliah Pendidikan Pancasila. Hari ini merupakan hari terakhir kami mengikuti mata kuliah Pendidikan Pancasila  bersama Bapak Abdul Rahman Hamid, M..H. Pada kali ini kami membahas materi kami yang terakhir yaitu mengenai Pancasila sebagai pengembangan ilmu. Kali ini Pak Abdul memberikan sebuah permainan dimana kami harus menebak beberapa kata kunci dalam sebuah teks yang berkaitan dengan materi. Namun ada beberapa hal yang bisa saya dapat dari permainan tersebut.

IPTEK selalu mengalami kemajuan yang pesat. Dimana semua perkembangannya tidak terlepas dari nilai nilai yang terkandung maupun lingkup situasinya. Karena perkembangan ini selalu bermuara pada kehidupan manusia, maka perlu pertimbangan antara strategi atau cara cara agar perkembangan ini bermanfaat bagi masyarakat Indonesia.

Dalam mempertimbangkan strategi itu, maka kita dapat meletakkan Pancasila sebagai dasar pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di Indonesia. Pancasila dijadikian sebuah tolak ukur sebuah kebenaran. Agar nilai nilai yang terkandung dapat berfungsi dengan baik sebagai satu keutuhan.

Pancasila dituntut untuk terbuka dari kritik, bahkan merupakan suatu kesatuan dari perkembangan ilmu yang menjadi tuntutan peradaban manusia. Peran pancasila juga harus sampai pada penyadaran bahwa segala permasalahan yang ada pasti dapat diatasi dengan adanya keyakinan dengan mempertimbangkan etis, religius, dan nilai budaya.